Model berikutnya adalah V model, V model ini merupakan extension dari waterfall model yang sudah saya bahas di section sebelumnya.
Tapi ada hal yang paling penting di V model ini yaitu adanya verifikasi dan validasi
Tetap stage yang ada di dalam V model ini yang pertama itu requirement analysis,
yang ke-2 itu system design terus arsitektur desain, modul desain, dan coding.
Nah tetapi nanti akan ada 2 seperti yang bisa lihat di grafik ini.
Jadi di grafik gitu kalau kita lihat di bagian kiri itu ada verifikasi, yang di sebelah kanan itu ada validasi
seperti acception testing, system testing, integration testing dan unit testing.
Konsepnya sama seperti waterfall cuman ada verifikasi dan validasi.
Kelebihan dari V model ini dibandingkan dengan model-model yang lainnya adalah
yang pertama V model ini sangat fleksibel terus yang ke-2 aktivitas seperti planning, test, test design
itu dilakukan sebelum coding sehingga itu lebih menghemat waktu dan itu lebih better
dari model yang sebelumnya saya bahasa itu model waterfall.
Terus V model ini juga sangat mudah dimengerti untuk orang yang baru terjun di software development.
Terus kelebihan yang terakhir adalah V model ini sangat bagus untuk proyek-proyek Kecil.
Nah kekurangannya apa kekurangannya ini hampir sama juga dengan waterfall model
jika terjadi perubahan di tengah development, tes dokumen dan require dokumennya itu harus di update.
Jadi mau enggak mau nih ketika terjadi perubahan itu ya benar-benar harus di update semuanya
tapi bedanya kalau di waterfall seperti yang kita tahu kalau udah mentok di testing
mau berubah mau kembali ke fase stage berikutnya itu kan susah enggak akan bisa melanjutkan project nya.
Terus kekurangan lainnya dari V model ini software yang dibuat pada saat fase coding atau implementasi.
Itu jadinya itu enggak ada early prototype karena biasanya ada klien yang membutuhkan prototype
ya mungkin mereka buat ditunjukkan kepada CEO nya mereka, CTO nya mereka
ataupun orang-orang yang berkepentingan terhadap project tersebut.
Itu minus nya enggak ada early prototype jadi enggak ada hasil yang sudah ada di muka lah gitu.
Nah kapan kita harus menggunakan V model ini?
Sebenarnya simple aja kalau ingin menggunakan V model ini
itu saat requirement dari project yang small to medium lah itu benar-benar sudah fix
itu baru kita bisa menggunakan V model ini kalau semua requirement udah oke kita pakai aja V model gapapa
dan project nya enggak terlalu besar juga gitu. Terus cost kita harus biasa benar-benar memastikan
high confidence lah ke customer nya bahwa tidak ada prototype yang dihasilkan selama proses development.
Jadi kalau klien nya oke ga ada prototype, ga ada contoh-contoh
software yang akan kita gunakan apa nanti ketika tahap development
mereka oke ya udah gapapa kita pakai aja V model ini toh ini mudah dimengerti
lebih cepat juga dan bagus buat aplikasi yang kecil sampai medium. Itu tentang V model
